ISLAM => Engkau meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah
dan Nabi Muhammad utusan Nya, melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa di
bulan suci Ramadan, pergi haji ke baitullah jika mampu.
IMAN => Iman ialah percaya kepada Allah dan
Malaikat-Nya dan akan bertemu dengannya, dan pada Nabi utusan-Nya, dan percaya
pada hari berbangkit dari kubur.
IHSAN => menyembah pada Allah seakan-akan engkau melihatnya, tetapi
apabila kamu tidak melihat-Nya, dia pasti melihat kamu.
ما الايمان؟ قال: الايمان ان تؤمن
باالله وملائكته و بالقائه وبرسله وتؤمن بالبعث قال: مالاسلام؟ قال: الاسلام ان
تعبد الله ولا تشرك به و تقيم الصلاة وتؤدى الزكاة المفرضه وتصوم رمضان. قال:
ماالاحسان؟ قال: ان تعبد الله كانك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك. قال: متى
الساعة؟ قال: ما المسئول عنها باعلم من السائل وساخبرك عم اشرا طها اذا ولدت الامة
ربها واذا تطاول رعاة الابل البهم فى البنيان. فى خمس لا يعلمهن الا الله ثم تلا
النبى: ان الله عنده علم السعاة. ثم ادبر فقال: "ردوه" فلم يرواشيئا.
فقال: هذا جبريل يعلم الناس دينهم.[18]
Artinya:’ Ab Hurairah r.a berkata : Pada suatu hari
ketika Nabi saw duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seseorang bertanya :
Apakah iman ?. Jawab Nabi : Iman ialah percaya kepada Allah dan Malaikat-Nya
dan akan bertemu dengannya, dan pada Nabi utusan-Nya, dan percaya pada hari
berbangkit dari kubur. Lalu Nabi ditanya : Apakah Islam ?. Jawab Nabi SAW ;
Islam adalah menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apapun, dan mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat yang telah
diwajibkan dan puasa pada bulan Ramadan. Lalu Nabi ditanya : Apakah Ihsan ?.
Jawab Nabi : Ihsan adalah menyembah pada Allah seakan-akan engkau melihatnya,
tetapi apabila kamu tidak melihat-Nya, dia pasti melihat kamu. Lalu Nabi
ditanya : Kapankah hari kiyamat ?. Jawab Nabi : Orang yang ditanya tidak lebih
mengetahui daripada orang yang menanya, tetapi
saya katakan padamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari
kiyamat, jika budak sahaya telah melahirkan majikannya dan jika pengembala onta
dan ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung. Termasuk lima
perkara yang tidak diketahui kecuali Allah, yang tersebut dalam ayat :
“Sesungguhnya
Hanya Allah yang mengetahui bilakah hari kiyamat, dan dia pula yang menurunkan
hujan, dan mengetahui yang di dalam rahim ibu, dan tiada seorangpun yang
mengetahui apa yang terjadi besok hari, dan tidak seorangpun mengetahui
dimanakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah mengetahui sedalam dalamnya”.(Q.S.
Al-Ahzab ayat 63). Kemudian pergilah orang itu, lalu Nabi menyuruh sahabat;
kembalikan orang itu !, tetapi sahabat tidak melihat bekas orang itu, maka
rasul bersabda. Itu malaikat Jibril datang untuk mengajari agama pada manusia”.
Pada Hadis di atas ada empat aspek yang dijelaskan,
yaitu aspek iman, islam, ihsan dan tentang waktu hari kiyamat. Pada Hadis
tersebut dijelaskan bahwa iman ialah mempercayai Allah dan Malaikatnya serta
meyakini akan berjumpa dengannya, beriman dengan rasul-rasulnya, dan beriman
kepada hari kiyamat.
Masalah iman merupakan masalah pokok (pundamen)
dalam Islam, karena menyangkut masalah meng-Esa-kan Tuhan yaitu Allah SWT. Hal
ini ditunjukkan dengan kalimat tauhid yaitu:
لا اله الا الله
“Tiada
Tuhan selain Allah”.
Kalimat ini menjadi landasan dasar dan inti Islam,
yang membedakan manusia menjadi seorang mukmin atau kafir. Dalam
artian pengakuan terhadap ke-Esa-an Allah SWT, dan penolakan terhadap Tuhan
yang lainnya.
Pada hadis di atas dijelaskan ada lima hal yang harus
diimani, yaitu beriman kepada Allah, kepada Malikat-Malaikat, Kitab-Kitab,
Rasul-Rasul dan Hari Akhirat (hari berbangkit). Pada hadis
yang lain rasul menambahkan satu hal lagi yang harus diimani, para ulama
memasukkannya kepada rukun iman, yaitu beriman kepada Qa«a dan Qadar
yang baik dan yang buruk. Sebagaimana yang dipaparkan hadis di bawah ini :
الايمان ان تؤمن بالله وملائكته وكتبه
ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدر خيره و شره.[19]
”Iman ialah mengimani Allah, Malaikatnya,
Kitab-Kitabnya, Rasul-Rasulnya, Hari Akhirat dan mengimani Qadar baik dan
buruk-Nya”.
Beriman kepada Allah dalam artian, mempercayai
bahwa tiada Tuhan selain daripada Allah, mengEsakan-Nya dan tidak
mensyarikatkannya dengan sesuatu, dan mengimani sifat-sifat yang wajib padanya,
yang pada intinya mematuhi perintah dan meninggalkan larangannya. Beriman
kepada Malaikat mengandung arti menyakini bahwa Allah menciptakan Malaikat yang
selalu patuh terhadapnya. Menurut ulama ada sepuluh malaikat yang harus
diimani. Beriman dengan Kitab Allah, mengandung artian, mempercayai bahwa
kitab-kitab yang turun kepada rasul pilihannya adalah benar berasal dari Allah
SWT. Ada empat kitab yang wajib diimani yaitu Al-quran, Zabur, Inzil
dan Taurat. Beriman pada Rasul, mengandung artian bahwa percaya bahwa
Allah mengutus rasul-rasulnya untuk menyampaikan amanahnya kepada umat
manusia di muka bumi. Beriman pada Hari Kiyamat mengandung arti mempercayai
bahwa hidup di dunia ini akan berakhir, dan akan mengalami kehidupan yang baru
yaitu alam akhirat, yang mana pada alam ini akan terjadi pembalasan segala amal
perbuatan manusia sewaktu hidup di dunia.[20] Beriman pada qadar baik dan buruk, mengandung artian meyakini Allah mempuyai kekuasaan untuk menetapkan hal yang baik dan yang buruk terhadap manusia, setelah manusia tersebut terlebih dahulu melakukan usaha, (ikhtiar). Keenam hal tersebut di atas harus tertanam di dalam setiap keyakinan umat Islam, karena enam hal tersebut termasuk rukun iman.[21]
REFERENSI :
Syarah
Bukhari. (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1996), hlm.203. selanjutnya disebut
al-Qastalani.
[10] M. Warson
Munawwir, Op.cit., hlm.699
[11] Abd
al-Hamid Yuns, Da’irah al-Ma’arif al-Islam³yah, (Kairo : D±r al-Sya’b,
T.th) juz III, hlm.341
[12] Imam Abu
Husein Muslim ibn Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. RH. Muslim bi syarah
an-Nawawi, (Kairo : al-Ma¯ba’ah al-Mi¡riyah, T.th), hlm.2.
[13] Al-Maudud. Towards
Understanding Islam, (Jeddah : One seeking Mercy of Allah, T.Th), hlm.85.
[14] Hammudah
Abdalati, Islam in Focus, (Riyadh : National Offset Printing Prees,
1986), hlm.8
[15] Louis
Ma’luf, Op.cit, hlm.134
[16] Muhammad
Amin al-Kurdi, Op.cit., hlm.84
[17] Muslim bi
Syarh an-Nawawi, Op.cit., hlm.159
[18] Imam ‘Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim
ibn Mughirah ibn Bardizbah al-Bukhari, HR
http://alazabut.blogspot.com/2012/06/pengertian-tentang-iman-islam-dan-ihsan.html#.Us9FI_svtC